Dilema Etika dalam Bisnis


Suatu keputusan dipengaruhi oleh banyak faktor: keinginan, kekuasaan, uang, kemashyuran dan penerimaan (acceptance). Faktor-faktor ini apabila digabungkan dengan budaya dan ekonomi akan berpotensi mengaburkan penilaian seseorang, bahkan yang paling taat hukum atau orang sholeh sekalipun. Seringkali dalam perjalanan usaha yang kita rintis, sering dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit yang menguji nilai-nilai dan pemahaman yang kadang kala lebih mempertimbangkan resiko dan keuntungan-keuntungan potensial daripada memikirkan etis atau tidaknya keputusan dan tindakan yang diambil. Contoh kecilnya adalah persoalan kewajiban pajak yang wajib disetorkan diakhir tahun pembukuan seringkali mengaburkan antara realitas membayar pajak seharusnya dengan tindakan untuk mengurangi bahkan untuk menihilkan pajak yang harus dibayar.

Lalu dimana etika akan ditempatkan dalam berbisnis?



Dalam banyak literatur, Rasululah SAW sangat banyak memberikan petunjuk mengenai etika bisnis, dua diantaranya adalah kejujuran dan memberi manfaat bagi orang lain:
Bagi seorang muslim. prinsip esensial dalam bisnis adalah kejujuran. Dalam doktrin Islam, kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. 
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِيْقاً وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذاباً  رواه مسلم .

 Abdullah bin Mas'ud berkata:"Bersadbda Rasulullah SAW: Kalian harus jujur karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada jannah. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ditulis di sisi Allah SWT sebagai orang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan dan keburukan itu menujukkan kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta sehingga ditulis Allah SWT sebagai seorang pendusta"(HR Muslim) [Shohih Muslim Hadist No 6586..

Rasulullah sangat intens menganjurkan kejujuran dalam aktivitas bisnis. Dalam tataran ini, beliau bersabda: “Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya” (H.R. Al-Quzwani). “Siapa yang menipu kami, maka dia bukan kelompok kami” (H.R. Muslim). 

Rasulullah sendiri selalu bersikap jujur dalam berbisnis sehingga mendapatkan kerpecayaan dari semua kalangan (Al-Amin), bahkan dari musuhnya sekalipun. Beliau melarang para pedagang meletakkan barang busuk di sebelah bawah dan barang baru di bagian atas.  " Seorang pebisnis yang jujur dan terpercaya akan bersama para Nabi, Shiddiqun dan Syuhada"[HR Tirmidzi dan ad-Darimi].
Kedua, memberi manfaat bagi orang lain. Pelaku bisnis menurut Islam, tidak hanya sekedar mengejar keuntungan sebanyak-banyaknya, sebagaimana yang diajarkan Bapak ekonomi kapitalis, Adam Smith, tetapi juga berorientasi kepada sikap ta’awun (menolong orang lain) sebagai implikasi sosial kegiatan bisnis. Tegasnya, berbisnis, bukan mencari untung material semata, tetapi didasari kesadaran memberi manfaat dan kemudahan bagi orang lain dengan menjual barang dan jasa.

Kejujuran dan kesadaran sosial untuk membantu dan memberi manfaat bagi orang lain memiliki makna paling dalam sehingga  dalam berprilaku, seseorang akan akan mempunyai nilai bukan hanya di kalangan manusia juga di hadapan Allah SWT dan bukan sekedar hitungan laba-rugi semata saja tetapi terkandung dalam neraca keseimbangan antara dunia dan akhirat. Sebagai contoh, mungkin saja dengan ketaatan membayar pajak misalnya, maka keuntungan dari usaha yang kita rintis bisa dinikmati oleh semua orang tanpa terkecuali.

Bahwa dalam kehidupan ini setiap manusia memang seringkali mengalami dilema etis antara harus memilih keputusan etis dan keputusan bisnis sempit semata sesuai dengan lingkup dan peran tanggung jawabnya, tetapi jika kita percaya Sabda Nabi SAW, atau logika ekonomi diatas, maka percayalah, jika kita memilih keputusan etis maka pada hakikatnya kita juga sedang meraih bisnis. Mari berbisnis dengan etika yang dijalankan Rasulullah SAW.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar